23 August 2008

Full Suspension atau Hardtail?

Posted by eddys under: Tentang Sepeda .

Respon yang sangat bagus dari teman-teman telah sampai pada kami. Mereka yang belum bergabung dengan MCC, tampak semangat dengan mulai mencari-cari informasi tentang sepeda. Mereka selama ini hanya tahu bahwa sepeda adalah sepeda, sebuah alat transportasi roda tanpa mesin bermotor, ternyata begitu masuk ke toko sepeda, mereka terpaksa menangguhkan rencana pembelian sepeda karena begitu banyak ragam jenisnya. Padahal mereka sudah yakin akan membeli sepeda jenis MTB (sepeda gunung). MTB sendiri telah menawarkan banyak ragam jenis dan fitur. Sehingga banyak dari mereka yang menyampaikan pertanyaan pada kami “sepeda apa yang cocok? Full Suspension atau Hardtail?”

MTB secara umum dibagi 2 jenis kategori yaitu: Full Suspension dan Hardtail. Sebelum kami membahas lebih detail, perbedaan terbesar dari kedua jenis ini adalah dari bentuk framenya. Frame pada jenis Full Suspension dilengkapi dengan sebuah suspensi, sedangkan tidak pada Hardtail. Kalau dihadapkan pertanyaan “Enak mana Full Suspension atau Hardtail?” maka jawaban yang paling mudah adalah “mengapa sepeda motor dan mobil dilengkapi dengan suspensi-suspensi di setiap rodanya?”. Pernahkah anda naik Bajaj di Jakarta? Nah, kira-kira Hardtail adalah seperti itu. Namanya saja Hardtail (Ekor Keras) jadi tentu saja sangat tidak nyaman digunakan pada medan bebatuan.

jenis sepeda gunung

MTB Full Suspension mulai tren pada pertengahan tahun 90an. Idenya muncul agar si pengendara lebih nyaman ketika melintasi medan pegunungan yang kasar dan berbukit-bukit. Solusinya adalah dengan menambahkan sebuah suspensi yang menopang pengendara dan roda belakang. Akan tetapi, masalah awal yang muncul adalah beban sepeda menjadi lebih berat ketimbang jenis Hardtail. Dengan spek dan bahan yang sama, Full Suspension bisa jadi lebih berat 2-5 kg dibanding Hardtail. Itu dikarenakan adanya tambahan berat suspensi dan rancangan frame yang lebih rumit. Dengan beban yang lebih berat, maka tenaga yang dibutuhkan akan lebih banyak. Masalah yang kedua, adalah bahwa efek dari suspensi tersebut ternyata juga menyerap tenaga si pengendara ketika mengayuh pedal. Problem yang ketiga, karena lengan tumpuan roda belakang terpisah dengan frame utama, ini membuat keregangan rantai berubah-ubah. Ketiga problem ini, jelas membuat si pengendara menjadi lebih cepat kehabisan tenaga.

Tapi jangan kuatir, sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun telah dilakukan pengembangan dan perbaikan pada Full Suspension. Dengan berbagai teknologi terbaru yang ditawarkan setidaknya telah menghilangkan problem-problem masa lalu. Problem 1 dipecahkan dengan hadirnya suspensi terbaik dengan bobot yang sangat ringan. Problem 2 dipecahkan dengan fitur suspensi yang bisa dikunci. Problem 3 dipecahkan dengan bentuk rancangan frame yang semakin presisi dan kuat. Hanya 1 masalah yang tidak dapat dihilangkan. Apa itu? dengan spek yang sama Full Suspension akan tetap lebih mahal ketimbang Hardtail.

Kalau saya berpendapat bahwa Full Suspension lebih baik ketimbang Hardtail. Mengapa? karena Sepeda Full Suspension saat ini dapat di-set seperti Hardtail. Sebaliknya, Hardtail tidak akan bisa menjadi Full Suspension.

5 Comments so far...

sandynata Says:

23 October 2008 at 5:55 am.

pantesan sepeda saya berat bos! :)

Hendra_30658 Says:

16 December 2008 at 8:29 am.

Wah..saya nda punya sepeda. Jd tidak tau. He3..

danu Says:

18 December 2008 at 11:14 am.

eddys wrote :
Kalau saya berpendapat bahwa Full Suspension lebih baik ketimbang Hardtail. Mengapa? karena Sepeda Full Suspension saat ini dapat di-set seperti Hardtail. Sebaliknya, Hardtail tidak akan bisa menjadi Full Suspension.

saya kira permasalahannya tidak sesederhana itu. Full Suspension tidak bisa dikatakan lebih baik daripada Hardtail. Semua tergantung kebutuhan, Hardtail kebanyakan untuk kebutuhan bersepeda yang mengandalkan keringanan seperti Cross Country(XC) dan Slalom. sedangkan Full Suspension (Fulsus) lebih ke arah bersepeda yang mengandalkan gravitasi seperti DownHill dan All Mountain, walaupun Fulsus memiliki fitur Mechanical Lock (bisa dikunci) namun untuk kebutuhan XC masih kalah dengan hardtail karena yang menjadi pengaruh tidak melulu pada Shock namun lebih kepada Geometry sepeda (kita tahu geometry sepeda hardtail dan fulsus jauh berbeda) apalagi untuk urusan Slalom sepeda Fulsus mah jauh… maka dari itu semua kembali kepada kebutuhan bersepeda kita

TITO Says:

29 December 2008 at 11:59 am.

fulsus ama hardtail sama-sama enaknya kook..
cuma untuk mendapatkan sepeda fulsus yang bisa mendekati fungsi hardtail mungkin
akan membuat kantong menjadi bolong bagi beberapa cyclist,
karena kita tahu bahwa harga dari sepeda fulsus yang seperti itu sendiri berkisar antara
4-25 juta lowh!! padahal itu hanya framenya saja! coba bayangkan jika fulbike?!
harganya kira-kira diatas 7 jutaan..

jika bugdet tidak terlalu besar,
lebih baik beli yang hardtail aja..
selain lebih enak kalo nanjak,
perawatannya juga lebih mudah dan tidak mahal.

tetapi untuk pecinta fulsus pasti harga tidak
akan menjadi soal bukan??
kan bisa kredit…..
Hehehehe……

Didit Wijanarko Says:

25 December 2009 at 1:32 am.

Kalau sepeda fulsus itu kalau untk yg medannya nanjak kita harus sediakan tenaga exstra (sebab gerakan shock nya yg bikin berat), tetapi meskipun shock nya sdh di lock tapi tetap saja masih terdapat toleransi ayunan. Kalau kita lupa meng lock tapi dipakai untk medan offroad itu juga membikin double sus nya gampang rusak. Saya setuju dg pendapatnya mas Danu
Cuma sekedar share aja ya Vi

Leave a Reply